Rabu, 09 Januari 2013

Makalah Studi Islam


BAB I
PENDAHULUAN
Ilmu-ilmu pada segi-seginya yang menyangkut masalah sosial, termasuk bagian yang dapat diteliti, diamati dll. Untuk mengenal islam kita tidak memilih satu penelitian saja, karena islam bukanlah agama yang berdimensi satu, dimensi-dimensi islam bisa dilihat dari segi cara hidup seseorang, sejarah, budaya dan lain-lain. Sehingga dalam dimensi tersebut  ada penelitian tentang sejarah, pendidikan, politik, antropologi dan juga sosiologi. Berikut akan dibahas tentang penelitian-penelitian tersebut.
     















BAB II
PEMBAHASAN

1.      MODEL PENELITIAN PENDIDIKAN DALAM ISLAM
a.      Pengertian Pendidikan Islam
Rangkaian kata “pendidikan islam” bisa dipahami dalam arti berbeda-beda, antara lain : pendidikan menurut islam, pendidikan dalam islam, pendidikan agama islam.
Pendidikan menurut islam, berdasarkan sudut pandang bahwa islam adalah ajaran tentang nilai-nilai dan norma-norma kehidupan ideal, yang bersumber dari al-Quran dan as-Sunnah. Pendidikan dalam islam, berdasar atas perspektif bahwa islam adalah ajaran-ajaran, sistem budaya dan peradaban yang tumbuh dan berkembang sepanjang perjalanan sejarah umat islam, sejak zaman Nabi Muhammad a.s sampai masa sekarang. Pendidikan agama islam, muncul dari pandangan bahwa islam adalah nama bagi agama yang menjadi panutan dan pandangan hidup (way of life) umat islam.[1]
            Dalam bahasa Arab, istilah pendidikan disebut dengan “tarbiyah”, dengan kata kerja “rabba”. Kata “pengajaran” dalam bahasa Arab adalah “ta’lim” dengan kata kerjanya “allama”. Pendidikan dan pengajaran dalam bahasa Arabnya adalah ”tarbiyah wa ta’lim” sedangkan pendidikan Islam dalam bahasa Arabnya adalah ”Tarbiyah Islamiyah”. Kamus bahasa Arab menyebutkan istilah tarbiyah berasal dari tiga kata, yaitu:
1.      Raba-yarbu, yang artinya bertambah dan tumbuh.
2.       Rabiya-yarba dengan wazan (bentuk) khafiya-yakhfa yang berarti menjadi besar.
3.      Rabba-yarubbu dengan wazan (bentuk) madda-yamuddu, berarti memperbaiki, menguasai urusan, menuntun, menjaga, dan memelihara.
      Abdurrahman An-Nahlawi membuat kesimpulan mengenai pendidikan, yaitu:
1.      Pendidikan adalah suatu proses yang mengenai tujuan, sasaran dan objek.
2.      Secara mutlak, pendidikan yang sebenarnya hanyalah Allah SWT, Pencipta fitrah dan Pemberi berbagai potensi.
3.      Pendidikan menuntut adanya langkah-langkah yang secara bertahap harus dilalui oleh berbagai kegiatan pendidikan dan pengajaran, sesuai dengan urutan yang telah disusun secara sistematis.
4.                  Kerja pendidik harus mengikuti aturan penciptaan dan pengadaan yang dilakukan Allah SWT, sebagaimana harus mengikuti syara’ dan din Allah SWT.
             Pengertian Islam berasal dari bahasa Arab yang artinya berserah diri, patuh dan tunduk. Kata aslama tersebut pada mulanya berasal dari salima yang berarti selamat sentosa dan damai.
            Selanjutnya jika kata pendidikan dan Islam disatukan menjadi pendidikan Islam maka artinya secara sederhana adalah pendidikan yang berdasarkan ajaran Islam, yaitu suatu proses pewarisan dan pengembangan budaya manusia yang bersumber dan berpedoman kepada ajaran Islam sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an dan dijabarkan dalam sunah Rasul.
            Secara keseluruhan definisi pendidikan Islam itu adalah upaya, membimbing, mengarahkan, dan membina peserta didik yang dilakukan secara sadar dan terencana agar terbina suatu kepribadian yang utama sesuai dengan nilai-nilai ajaran Islam.[2]

b.      Aspek-Aspek Pendidikan Islam
            Pendidikan islam sebagaimana pendidikan lainnya memiliki berbagai aspek yang terucakup di dalamnya. Aspek tersebut dapat dilihat dari segi cakupan materi didikannya, filsafatnya, sejarahnya, kelembagaannya, sistemnya, dan dari segi kedudukannya sebagai sebuah ilmu. Dari segi aspek materi didikannya, pendidikan islam sekurang-kurangnya mencakup pendidikan fisik, akal, agama, akhlak, kejiwaan, rasa keindahan, dan sosial kemasyarakatan. Dilihat dari segi sejarahnya, pendidikan islam mencakup :
-          Periode pembinaaan islam yang berlangsung pada zaman Nabi Muhammad saw. Masa ini berlangsung sejak nabi Muhammad saw menerima wahyu dan menerima pengangkatannya sebagai rasul, samapai dengan lengkap dan sempurnanya ajaran islam menjadi warisan budaya umat islam.
-          Periode pertumbuhan pendidikan islam yang berlangsung sejak zaman nabi Muhammad wafat sampai masa akhir Bani Umayyah yang diwarnai oleh berkembangnya ilmu-ilmu naqliyah.
-          Periode kejayaan (puncak perkembangan) pendidikan islam, yang berlangsung sejak permulaan Daulah Abbasiyah sampai dengan jatuhnya Bagdady diwarnai dengan berkembangnya olmu aqliyahdan timbulnya madrasah, serta memuncaknya perkembangan kebudayaan islam.
-          Periode kemunduran pendidikan islam, yaitu sejak jatuhnya Bagdad sampai jatuhnya Mesir kewajiban tangan Napoleon, yang ditandai dengan runtuhnya sendi-sendi kebudayaan islam dan berpindahnya pusat-pusat pengembangan kebudayaan kewajiban dunia barat.
-          Periode pembaharuan pendidikan islam yang berlangsung sejak pendudukan Mesir oleh Napoleon sampai masa kini, yang ditandai oleh gejala-gejala kebangkitan kembali umat dan kebudayaan islam.
Selanjutnya dilihat dari segi kelembagaannya pendidikan islam mengenal adanya pendidikan yang dilaksanakan dirumah, mesjid, pesantren, dan madrasah dengan berbagai macam corak dan pendekatannya. Selanjutnya pendidikan islam sebagai sebuah sistem adalah suatu kegiatan yang di dalamnya mengandung aspek tujuan, kurikulum, guru, metode, pendekatan, sarana prasarana, lingkunagn, administrasi, dan sebagainya yang antara satu dan lainnya saling berkaitan dan membentuk suatu sistem yang terpadu.[3]



c.       Model Penelitian Ilmu Pendidikan Islam
            Dilihat dari segi obyek kajiannya Ilmu Pendidikan dapat dibagi menjadi tiga bagian. Pertama ada pengetahuan ilmu yaitu pengetahuan tentang hal-hal atau obyek-obyek yang empiris, diperoleh dengan melakukan penelitian ilmiah, dan teori-teorinya bersifat logis dan empiris. Pengujian teorinya pun diukur secara logis dan empiris. Bila logis dan empiris, maka teori ilmu itu benar, dan inilah yang selanjutnya disebut science.
            Kedua, pengetahuan filsafat yaitu pengetahuan tentang obyek-obyek yang abstrak logis, diperoleh dengan berfikir, dan teori-teorinya bersifat logis dan hanya logis (tidak empiris). Kebenaran atau kesalahan teori filsafat hanya diukur dengan logika; bila logis dinilai benar; bila tidak maka salah. Bila logis dan ada bukti empiris, maka teori itu bukan teori filsafat, melainkan teori ilmu (sains).
            Ketiga, pengetahuan mistik yaitu pengetahuan yang obyek-obyeknya tidak bersifat empiris, dan tidak pula terjangkau oleh logika. Obyek pengetahuan ini bersifat abstrak, supra logis. Obyek ini dapat diketahui melalui berbagai cara, misalnya dengan merasakan pengetahuan batin, dengan latihan atau cara lain. Pengetahuan kita tentang yang gaib, diperoleh dengan cara ini.
            Dari ketiga macam pengetahuan tentang pendidikan Islam tersebut, maka dapat disimpukan bahwa pengetahuan (ilmu) pendidikan Islam terdiri dari pengetahuan filsafat pendidikan, tasawuf (mistik) pendidikan dan ilmu pendidikan. Filsafat dan tasawuf terkadang disebut ilmu, padahal secara akademis keduanya itu bukan ilmu tapi pengetahuan, karena yang disebut ilmu harus bersifat empiris dan memiliki ciri-ciri ilmiah. Dengan demikian jika disebutkan Ilmu Pendidikan Islam, maka cakupannya ialah masalah-masalah yang berada dalam dataran ilmu (sains), yaitu obyek-obyek yang logis dan empiris tentang pendidikan.
            Pendidikan Islam merupakan salah satu bidang studi Islam yang mendapat banyak perhatian dari para ilmuwan. Berbagai model penelitian yang berkaitan dengan pendidikan Islam telah dilakukan, antara lain sebagai berikut:

1.      Model Penelitian tentang Problema Guru
            Dalam usaha memecahkan problema guru, Himpunan Pendidikan Nasional (National Education Association) di Amerika Serikat pernah mengadakan penelitian tentang problema yang dihadapi guru secara nasional pada tahun 1968.
            Prosedur yang dilakukan dalam penelitian tersebut, yaitu dengan pengumpulan data yang dilakukan oleh bagian Himpunan Pendidikan Nasional (National Education Association) melalui survey pendidikan umum guru (opinion survey for teacher) pada musim semi tahun 1966.
            Kuesioner yang dibuat terdiri dari tujuh belas macam pertanyaan tentang problema guru yang potensial.  Data yang terkumpul dari kuesioner itu dijadikan landasan analisis. Dengan demikian, penelitian tersebut dari segi metodenya termasuk penelitian survey, yaitu penelitian yang sepenuhnya didasarkan pada data yang dijumpai di lapangan, tanpa didahului oleh kerangka teori, asumsi atau hipotesis.
            Hasil yang diperoleh dari penelitian tersebut adalah dijumpainya lima aspek pokok yang menyangkut kondisi dan kompensasi tugas mengajar guru. Adapun lima aspek pokok (top ranking aspect) tersebut, yaitu:
1.   Sedikitnya waktu untuk istirahat dan untuk persiapan pada waktu dinas di sekolah
2.   Ukuran kelas yang terlalu besar
3.   Kurangnya bantuan administratif
4.   Gaji yang kurang memadai
5.   Kurangnya bantuan kesejahteraan
            Di antara problema-problema tersebut, problema nomor satu yaitu sedikitnya waktu untuk istirahat dan untuk persiapan pada waktu dinas di sekolah merupakan problema yang mendapatkan persentase terbesar sebagai problema mayor.

2.      Model Penelitian tentang Lembaga Penelitian
            Lembaga pendidikan Islam adalah wadah atau tempat berlangsungnya proses pendidikan Islam yang berlangsung bersama dengan proses pembudayaan. Kepentingan dan keutamaan keluarga sebagai lembaga pendidikan Islam diisyaratkan dalam Al-Qur’an. Perintah untuk menjaga dan memelihara diri, kaum keluarga dari kesengsaraan dan api neraka. Sejak masuk dan berkembangnya Islam di Indonesia lembaga pernikahan dan keluarga memegang peranan yang penting dalam proses pendidikan Islam.
            Pendidikan dalam keluarga tersebut didasari oleh nilai-nilai dan norma-norma, budaya Islam melalui pendidikan dalam keluarga itu suatu generasi menghasilkan generasi berikutnya yang memiliki kualitas yang lebih tinggi. Peranan pendidikan yang sentral tersebut semakin luas memerlukan adanya wadah yang menampungnya. Wadah biasanya untuk menampung adalah masjid atau surau. Kemudian menjadi lembaga pendidikan yang potensial sebagai lembaga pendidikan dasar.
            Dalam ajaran Islam adalah wajib untuk mendirikan lembaga pendidikan lanjutan. Maka terbentuknya pesantren yang kemudian berpengaruh dan bersaing dengan sistem pendidikan Barat yang diperkenalkan oleh pemerintah Belanda, timbullah sistem pendidikan terpadu antara sekolah umum dan madrasah.
      Salah satu penelitian yang berkenaan dengan lembaga pendidikan Islam adalah penelitian Karel A. Steenbrink dalam bukunya berjudul Pesantren, Madrasah, dan Sekolah Pendidikan Islam dalam Kurun Modern yang diterbitkan oleh LP3ES, Jakarta pada tahun 1968.
            Metode penelitian yang dilakukannya adalah pengamatan (observasi). Sedangkan objek pengamatannya adalah sejumlah pesantren yang ada di Jawa dan Sumatera. Melalui analisis historis yang dipadu dengan pendekatan komparatif, Karel A. Steenbrink menyimpulkan bahwa dibandingkan dengan Malaysia, maka jelaslah pesantren di Indonesia melalui beberapa pembaharuan tetap berusaha memberikan pendidikan Islam yang juga memenuhi kebutuhan pendidikan sesuai dengan zamannya. Sistem pondok pesantren di Malaysia bersifat lebih defensif dan kurang bisa menyesuaikan diri dengan zaman modern.
            Pada bagian lain hasil penelitian itu, Steenbrink mengatakan bahwa sejak permulaan tahun 1970-an ternyata beberapa organisasi Islam mengalami depolitisasi, yaitu melepaskan diri dari politik praktis dan politik partai serta lebih mementingkan cita-cita asli sebagai organisasi yang bergerak dibidang dakwah dan pendidikan.

3.      Model Pendidikan Kultur Pendidikan Islam
      Untuk mengenal model penelitian yang dilakukan oleh kedua peneliti ini dapat dikemukakan sebagai berikut:

a.      Model Penelitian Mastuhu
            Penelitian yang bertemakan kultur pendidikan Islam yang ada di pesantren dilakukan Mastuhu pada saat menulis disertasi untuk program doctor berjudul Dinamika Sistem Pendidikan Pesantren yang diterbitkan oleh Indonesian Netherlands Cooperation in Islamic Studies (INIS) pada tahun 1994. Penelitian tersebut dituangkan dalam lima bab, yaitu pendahuluan yang berisikan tinjauan pustaka, bab isi berisikan kerangka berfikir, metode, hasil pembahasan, dan bab akhir mengenai kesimpulan dan saran. Objek penelitian yang dilakukan ialah Pondok Pesantren An-Nuqayah di desa Guluk-Guluk, Sumenep (Madura), Pondok Pesantren Salafiyah Ibrahimiyah di desa Sukorejo, dan Pondok Pesantren Blok Agung di Banyuwangi.
            Secara garis besar isi penelitian tersebut mengemukakan latar belakang pemikiran yang berpijak pada tema di sekitar hubungan antara pendidikan nasional dan pembangunan nasional. Keberhasilan pembangunan nasional sangat tergantung pada partisipasi seluruh lapisan masyarakat. Partisipasi akan muncul dan berkembang apabila rakyat mengerti dan merasakan manfaatnya dalam keseharian. Pada bagian lain Mastuhu mengatakan bahwa pembangunan nasional memerlukan tata pikir yang berwawasan luas, rasional, dan hubungan antara manusia yang modern tidak bergantung pada otoritas perorangan.
            Dikalangan masyarakat luas terdapat kecenderungan tata pikir yang berwawasan sempit sehingga terjadi kesenjangan antara tata pikir lama yang tradisional dan tata pikir yang dianut oleh masyarakat modern.
            Mastuhu mengatakan bahwa agama Islam di Indonesia akan cacat fungsi dan peranannya apabila tidak mampu memberikan penjelasan mengenai pembangunan dan dorongan serta pedoman bagi pemeluknya untuk berpartisipasi dalam pembangunan nasional dengan penuh tanggung jawab. Untuk mencapai maksud tersebut diperlukan upaya pembaharuan pemikiran dalam Islam sesuai dengan kontekstualnya atau realitas sosial yang menjadi tuntutan zaman, yaitu pesantren sebagai salah satu lembaga pendidikan Islam terpadu.
            Pesantren adalah tempat belajar para santri. Maksudnya pesantren di Indonesia bersama dengan masuk dan berkembangnya agama Hindu. Berdiri suatu pesantren bermula dari pengakuan masyarakat akan keunggulan dan ketinggian ilmu seorang kiai. Keinginan menuntut dan memperoleh ilmu dari kiai tersebut maka masyarakat sekitar datang padanya untuk belajar. Mereka membangun tempat tinggal sederhana di sekitar tempat tinggal kiai tersebut. Kelangsungan hidup suatu pesantren amat tergantung pada daya tarik kiai atau guru yang memimpin. Pesantren akan menjadi mundur jika pewaris kiai yang mewarisinya tidak memenuhi persyaratan santri yang diakui telah tamat biasanya diberi izin oleh kiai untuk membuka atau mendirikan pesantren baru di daerah asalnya. Dengan begitu pesantren-pesantren berkembang diberbagai daerah. Ada pesantren yang mampu bertahan sampai beberapa generasi dan telah menghasilkan alumni-alumni yang berkemampuan mengembangkan pesantren-pesantren baru. Ciri khas pesantren menunjukkan unsur-unsur yang membedakan dengan lembaga pendidikan yang lainnya, yaitu adanya pondok atau tempat tinggal kiai, bersama para santri bekerja sama untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dalam situasi kekeluargaan dan gotong royong bersama warga pesantren. Pesantren mempunyai jumlah santri mukim yang lebih besar dibandingkan dengan jumlah santri kalong. Pesantren kecil mempunyai banyak santri yang diajarkan kitab-kitab klasik yang ditulis oleh ulama terdahulu.
            Untuk mengetahui kemungkinan terjadinya salah pengertian tentang berbagai peristilahan yang digunakan dalam penelitiannya. Mastuhu mencantumkan definisi operasional tentang system pendidikan, diartikan sebagai totalitas interaksi dari seperangkat unsur-unsur pendidikan yang bekerja sama secara terpadu. Pesantren diartikan sebagai lembaga pendidikan Islam untuk memahami, menghayati dan mengamalkan ajaran agama Islam dengan menekankan pentingnya moral agama Islam sebagai pedoman hidup bermasyarakat sehari-hari.
            Unsur pokok yang membedakan pesantren dengan lembaga pendidikan yang lainnya adalah di pesantren diajarkan kitab-kitab klasik yang ditulis oleh ulama terdahulu, disamping itu pesantren memiliki ciri-ciri khas yang merupakan jiwa dari pendidikan pesantren.
            Tingkatan pesantren disesuaikan dengan tingkatan kitab-kitab sederhana baik bahasa maupun isinya. Pada tingkatan ini dipelajari ilmu-ilmu alat, yaitu ilmu nahu, sharaf, dan ilmu-ilmu bahasa Arab lainnya, yang merupakan prasyarat untuk memasuki pesantren tingkat tinggi, yaitu dipelajari ilmu-ilmu fikih, ushul fikih, tafsir, hadist, tauhid, tasawuf, dan memperoleh keahlian dalam bidang tersebut secara mendalam.
     
b.   Model Penelitian Zamakhsyari Dhofier
            Model penelitian yang dilakukan Zamakhsyari Dhofier masih di sekitar pesantren. Penelitian yang dilakukan berjudul “Tradisi Pesantren: Studi tentang Pandangan Hidup Kiai” yang telah diterbitkan oleh LP3ES pada tahun 1982. Model penelitian yang dilakukan ini tidak menyebutkan secara eksplisit tentang latar belakang pemikiran, tujuan, ruang lingkup, metode dan pendekatannya, sebagaimana lazimnya sebuah penelitian. Namun jika dipelajari secara seksama tampak berbagai unsur yang ada dalam penelitian dijumpai dalam masalah ini.
            Penelitian ini berdasarkan studi lapangan, yaitu dua buah lembaga pesantren. Kedua pesantren itu adalah pesantren Tegal Sari dan pesantren Tebu Ireng. Pesantren Tegal Sari didirikan pada tahun 1870 di Kelurahan Sidoharjo, Kecamatan Susukan, Kabupaten Semarang Jawa Tengah. Pesantren Tebu Ireng didirikan pada tahun 1899 di Kelurahan Cukir, 8 kilometer sebelah tengggara kota Jombang, Jawa Timur.
            Dalam bukunya, Zamakhsyari mengatakan bahwa pada umumnya studi tentang Islam di Jawa selama ini menitikberatkan analisisnya pada segi pendekatan intelektual dan pendekatan teologi sehingga sering memberikan kesimpulan yang meleset. Zamakhsyari berusaha menunjukkan sumbangan pendekatan sosiologis dalam usaha memahami Islam di Jawa secara lebih tepat. Pendekatan sosiologis akan mengurangi kecenderungan menarik kesimpulan yang terlalu cepat.
      Dibagian lain Zamakhsyari mengemukakan bahwa penelitian ini bersifat deskriptif analitis. Akan tetapi, analisis yang dilakukannya tidak dimaksukan untuk menghasilkan proposisi-roposisi teoritis tertentu tentang tradisi pesantren dan paham Islam tradisional di Jawa. Analisis tersebut dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa data etnografis yang lebih banyak lagi dan analisis yang lebih imajinatif masih sangat diperlukan untuk dapat lebih memahami masyarakat dan kebudayaan manusia.
            Dengan metode ini dapat dihasilkan deskripsi atau uraian secara utuh dan menyeluruh tentang objek penelitian yang ditetapkan dengan didukung oleh data-data dari lapangan. Dengan analisis dapat dilakukan upaya identifikasi, kategorisasi yang selanjutnya dihasilkan kesimpulan yang dapat mengambil bentuk teori atau hipotesis. Analisis yang dilakukan Zamakhsyari tidak dimaksudkan untuk membangun sebuah teori, tetapi hanya sekedar untuk menjelaskan inti gagasan atau kondisi batin yang dapat dipahami dari fenomena empiris yang dapat diamati.
            Mastuhu dan Zamakhsyari Dhofier merupakan peneliti yang tergolong kaum pembaharu. Dalam penelitian keduanya tampak ingin mengetahui seberapa jauh tradisi dan nilai-nilai yang diberlakukan di pesantren masih ada yang cocok untuk masyarakat modern saat ini dan sejauh mana tradisi dan nilai-nilai yang tidak cocok lagi.[4]

2.      MODEL PENELITIAN SEJARAH DALAM ISLAM
a.      Pengertian Sejarah Islam
Kata sejarah dalam bahasa arab disebut tarikh dan sirah, atau dalam bahasa Inggris disebut history. Menurut pengertian istilah tarikh berarti sejumlah keadaan dan peristiwa-peristiwa yang terjadi di masa lampau, dalam benar-benar terjadi pada diri individu dan masyarakat, sebagaimana benar-benar terjadi pada kenyataan-kenyataan alam dan manusia.
Dalam bahasa Indonesia sejarah berarti silsilah, asal usul (keturunan), kejadian dan peristiwa yang benar-benar terjadi pada masa lampau.
Beberapa defenisi sejarah yang dikemukakan di atas lebih melihat searah dalam sisi luarnya, yakni bahwa sejarah dalam sisi luarnya tidak lebih dari rekaman peristiwa atau kejadian masa lampau pada diri individu dan masyarakat, baik dalam aspek politik, sosial, ekonomi, maupun budaya dan agama dan sebagainya. Bila dilihat dari sisi dalamnya, maka sejarah adalah suatu penalaran kritis dan usaha yang cermat untuk mencari kebenaran, suatu penjelasan yang cerdas tentang sebab-sebab dan asal usul segala sesuatu, sesuatu pengetahuan yang mendalam tentang bagaimana dan mengapa peristiwa-peristiwa itu terjadi.[5]
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan sejarah islam adalah peristiwa atau kejadian yang benar-benar terjadi yang berkaitan dengan pertumbuhan dan perkembangan agama islam dalam berbagai aspek. Dalam kaitan ini, maka muncullah berbagai istilah yang sering digunakan untuk sejarah ini, diantaranya sejarah islam, sejarah peradaban islam, sejarah dan kebudayaan islam.[6]
b.    Ruang Lingkup Sejarah Islam
Ruang lingkup sejarah Islam dilihat dari segi periodesasi, dapat dibagi menjadi periode klasik, periode pertengahan, dan periode modern. Periode klasik yang berlangsung sejak tahun 650-1250 Masehi dapat dibagi lagi manjadi masa kemajuan Islam I, yaitu dari sejak tahun 650-1000 Masehi, dan masa disintegrasi yaitu dari tahun 1000-1250 Masehi. Pada masa kemajuan Islam I itu tercatat sejarah perjuangan Nabi Muhammad saw. Dari tahun 570-632 M., Khulafaur Rasyidin dari tahun 632-661M, Bani Umayyah dari tahun 661-750 M, Bani Abbas dari tahun 750-1250 M.
Selanjutnya, periode pertengahan yang berlangsung dari tahun 1250-1800 M, dapat dibagi ke dalam dua masa, yaitu masa kemunduran I dan masa tiga kerajaan besar. Masa kemunduran I berlangsung sejak tahun 1250-1500 M. di zaman ini Jengis Khan dan keturunanaya datang membawa penghancuran ke dunia Islam. Sedangkan masa tiga kerajaan yang berlansung tahun 1500-1800 dapat dibagi manjadi fase kemajuan (1500-1700 M) dan masa kemunduran II (1700-1800 M).
    Adapun periode modern yang berlangsung dari tahun 1800 M. sampai dengan sekarang ditandai dengan zaman kebangkitan Islam.[7]
c.     Model Penelitian Sejarah
Terdapat berbagai model penelitian sejarah yang dilakukan para ahli, di antaranya ada yang melakukan studi sejarah dari segi tokoh atau pelakunya peristiwanya, produk-produk budaya dan ilmu pengetahuannya, wilayah atau kawasan tertentu, latar belakang terjadinya berbagai peristiwa tersebu, segi periodesasinya, dan sebagainya. Denikian pula dari segi analisisnya, terdapat para ahli yang menganalisis sejarah dari segi filsafat atau pesan ajaran yang terkandung di dalamnya, ada pula yang menganalisisnya dengan pendekatan perbandingan, dan lain sebagainya.
Berbagai model penelitian sejarah tersebut dapat dikemukakan sebagai berikut:
1.      Model Penelitian Sejarah kawasan
Penelitian sejarah dapat dilakukan dengan melihat kawasan dimana peristiwa itu terjadi.  John L. Esposito, misalnya, mengedit buku berjudul Islam Informasi Asia, Religion, Politics, dan society. Di dalam buku tersebut dikemukakan perkembangan islam di Asia pada umumnya, perkembangan islam di Iran, Pakistan, Afghanistan, Filipina, Asia tengah, Cina, India, Malaysia, dan Indonesia.
Model penelitian sejarah yang mengambil pendekatan kawasan juga dilakukan oleh Arthur Goldschmidt, Jr, sebagaimana terlihat dalam bukunya berjudul A Concise History of The Middle East. Melalui bukunya itu Arthur Goldschmidt telah berhasil mendeskripsikan secara konprehensif berbagai peristiwa yang terjadi di Timur Tengah sepanjang berkaitan dengan islam, mulai sejak kedatangan islam di daerah tersebut sampai dengan perkembangannya yang terakhir.
Model penelitian sejarah kawasan lebih lanjut di lakukan oleh Asyumardi Azra. Dalam hasil penelitian yang kemudian ditulis dalam bukunya berjudul Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara abad XVII DAN XVIII, terlihat dengan jelas bahwa yang menjadi fokus kajiannya adalah mengenai sejarah interaksi antara ulama Timur Tengah dan ulama di kepulauan Nusantara yang terjadi pada abad XVII DAN XVIII Masehi. Dengan kata lain fokusnya adalah Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara, sedangkan yang dikaji pada kawasan tersebut adalah mengenai interaksi antara ulama yang selanjutnya, menciptakan jaringan.
Model penelitian sejarah yang dilakukan oleh Azyumardi Azra adalah termasuk studi sejarah kawasan dengan mengambil masalah pokoknya pada jaringan ulama antara Timur Tengah dengan Melayu Nusantara dalam kurun abad ke-17 dan ke-18. Penelitian tersebt tergolong penelitian eksploratif, dokumentatif, dan kualitatif, karena berupaya mengungkapkan berbagai masalah yang ada kaitannya dengan jaringa ulama tersebut berdasarkan dokumen tertulis yang dapat dipertanggungjawabkan kesahihannya. Penelitian tersebut bukan penelitian uji hipotesis atau mencari kolerasi antara satu variabel dengan variabel lainnya.[8]
3.      MODEL PENELITIAN POLITIK DALAM ISLAM
a.      Pengertian politik
Secara etimologis politik berasal dari bahasa Yunani yaitu  polis. Polis berarti negara kota. Orang yang mendiami polis disebut polites. Poletis berarti warga negara. Politikos berarti kewarganegaraan. Dari istilah ini muncullah politike techne yang berarti kemahiran politik. Ars politica yang berarti kemahiran tentang soal kenegaraan. Politike episteme berarti ilmu politik. Dari kata inilah kata politik yang kita gunakan saat ini berasal.[9]
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia  mengartikan kata politik sebagai “segala urusan dan tindakan (kebijakan, siasat, dan sebagainya) mengenai pemerintahan negara atau terhadap negara lain.” Juga dalam arti “kebijakan dalam bertindak (dalam menghadapi atau menangani satu masalah).”[10]
Sebagai suatu sistem, politik adalah suatu konsepsi yang berisikan antara lain ketentuan-ketentuan tentang siapa sumber kekuasaan negara, siapa pelaksana kekuasaan tersebut, apa dasar dan bagaimana cara untuk menentukan serta kepada siapa kewenangan melaksanakan kekuasaan itu diberikan, kepada siapa pelaksanaan kekuasaan itu bertanggung jawab dan bagaimana bentuk tanggung jawab.[11]
Dalam kamus-kamus bahasa Arab modern, kata politik biasanya diterjemahkan dengan kata siyasah. Kata ini terambil dari kata sasa-yasusu yang biasa diartikan mengemudi, mengendalikan, mengatur, dan sebagainya. Dalam Al-Quran tidak ditemukan kata yang terbentuk dari akar kata sasa-yasusu, namun ini bukan berarti bahwa Al-Quran tidak menguraikan soal politik. Sekian banyak ulama Al-Quran yang menyusun karya ilmiah dalam bidang politik dengan menggunakan Al-Quran dan sunnah Nabi sebagai rujukan. Bahkan Ibnu Taimiyah menamai salah satu karya ilmiahnya dengan As-Siyasah Asy-syar’iyah (Politik Keagamaan).
Disisi lain terdapat persamaan makna antara pengertian kata hikmat dan politik. Sementara ulama mengartikan hikmat sebagai kebijaksanaan, atau kemampuan menangani satu masalah sehingga mendatangkan manfaat atau menghindarkan mudarat. Pengertian ini sejalan dengan makna kedua yang dikemukakan Kamus Besar Bahasa Indonesia tentang arti politik, sebagaimana dikutip diatas.[12]
b.      Eksistensi Politik Dalam Islam
Di kalangan masyarakat islam pada umumnya kurang melihat hubungan masalah politik dengan agama. Hal ini antara lain disebabkan karena pemahaman yang kurang utuh terhadap cakupan ajaran islam itu sendiri. Kuntowijoyo misalnya mengatakan : “banyak orang bahkan pemeluk islam sendiri, tidak sadar bahwa islam bukan hanya agama, tetapi juga sebuah komunitas (umat) tersendiri yang mempunyai pemahaman, kepentingan dan tujuan-tujuan politik sendiri. Banyak orang beragama islam adalah agama individual, dan lupa kalau islam juga merupakan kolektivitas. Sebagai kolektivitas islam mempunyai kesadaran, struktur, dan mampu melakukan aksi bersama. Pernyataan atau tersebut dibuktikan oleh Kuntowijoyo secara meyakinkan dalam bukunya itu, bahwa islam memiliki konsep tentang politik.[13]
Dalam konteks kekuasaan politik, Al-Quran memerintahkan Nabi Muhammad saw untuk menyampaikan pernyataan tegas berikut :
قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَن تَشَاءُ وَتَنزِعُ الْمُلْكَ مِمَّن تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَن تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَن تَشَاءُ ۖ بِيَدِكَ الْخَيْرُ ۖ إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
Katakanlah,"Wahai Tuhan pemilik kekuasaan, Engkau anugerahkan kekuasaan bagi siapa yang Engkau kehendaki dan mencabut kekuasaan dari siapa yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan siapa yang Engkau kehendaki, dan Engkau hinakan siapa yang Engkau kehendaki, dalam tangan-Mu segala kebajikan, sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala kebajikan, sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu”
Dari ayat diatas Allah SWT menganugerahkan kepada manusia sebagian kekuasaan politik itu. Diantara mereka ada yang berhasil melaksanakan tugasnya dengan baik karena mengikuti prinsip-prinsip kekuasaan politik dan ada pula yang gagal. Dari istilah Al-Quran tersebut kita dapat menjumpai uraian tentang kekuasaan politik, serta tugas yang dibebankan Allah SWT kepada manusia.[14]
Keberadaan politik dalam islam juga dapat dilihat pada masa Rasulullah dan juga khalifah setelahnya. Pada masa Rasulullah sistem politik yang diterapkan adalah bercorak teo-demokratis, sedangkan pada masa khalifah setelahnya bercorak aristrokrat demokratis. Salah satu permasalahan yang sangat besar yaitu pada masa Utsman yang mana pada 6 tahun terakhir  jabatannya terjadi politik nepotisme yang menyebabkan pemberontakan sehingga khalifah terbunuh oleh pemberontak tersebut. Permasalahn tersebut berlanjut hingga pemerintahan khalifah Ali bin Abi Thalib. Setelah itu  dilanjutkan oleh pemerintahan Bani Umayyah dan Bani Abbasiyah yang menerapkan sistem otokratis tidak secara demokratis. Selanjutnya keberadaan politik dalam islam dilihat dari munculnya berbagai teori politik, khususnya khilafah dan Imamiyah yang diajukan berbagai aliran. Berbagai aliran politik, teologi dan bahkan juga para filosof sudah berbicara politik. Dari teologi itu sendiri ada kaum syiah, sunni, khawarij dan lain-lain, adapun dari filosof islam muncul Al-Farabi, Ibnu Sina yang membahas politik dalam islam.[15]
c.       Model-Model Penelitian Politik
Menurut Alfian, permasalahan politik dapat dikaji melalui berbagai macam pendekatan. Ia dapat dipelajari dari sudut kekuasaan, struktur politik, partisipasi politik, konstitusi, pendekatan dan sosialisasi politik, pemikiran politik, dan juga kebudayaan politik.
Berikut ini akan disajikan model penelitian politik yang dilakukan oleh M. Syafi’i Ma’arif dan Harry J. Benda.
1.      Model M. Syafi’i Ma’arif
Salah satu hasil penelitian bidang politik yang dilakukan Syafi’i Ma’arif tertuang dalam bukunya berjudul Islam dan Masalah Kenegaraan,. Pada bagian pendahuluan laporan hasil penelitiannya itu, Syafi’i Ma’arif mengemukakan substansi ajaran Al-quran mengenai ketatanegaraan. Kemudian Syafi’i Ma’arif berusaha merumuskan permasalahan penelitiannya, yaitu : sampai seberapa jauh dan berapa dalam intelektual Muslim dan ulama Islam Indonesia memahami jiwa segar dari Islam cita-cita sebagai yang terpancar dalam lingkungan sosiologisnya, yakni lingkungan di mana nabi bergerak dan bekerja, bukan dalam ukuran-ukuran dan lembaga-lembaga yang diciptakan belakangan.
Dengan menggunakan metode penelitian kepustakaan yang handal dan dengan pendekatan normatif historis, Syafi’i Ma’arif berhasil mengeksplorasi perpolitikan umat Islam Indonesia pada abad kewajiban-20. Hasil penelitiannya ia tuangkan dalam lima bab yang saling berhubungan secara organik dan logis. Bab I adalah pendahuluan. Pada bagian ini ia mengemukakan pengertian singkat dan tepat tentang Al-Quran dan Sunnah Nabi yang bertalian dengan topik kajiannya. Selanjutnya bab II mengemukakan secara hati-hati teori-teori politik yang dirumuskan para yuris muslim abad pertengahan dan sarjana-sarjana serta pemikir Muslim modern. Pada bab III bertitik berat pada mendekati islam Indonesia di abad ke- 20. Bab ini dimaksudkan untuk memberikan suatu latar belakang sejarah yang komprehensif terhadap topik yang dibicarakan. Pada bab IV ia menguraikan secara kritis masalah yang sangat krusial. Yaitu pengajuan islam sebagai falsafah negara oleh partai-partai islam dan tantangan kelompok nasionalis dalam sidang-sidang Majelis Konstituante Republik Indonesia. Sedangkan bab V sebagai kesimpulan.    
Terlihat dengan jelas bahwa model penelitian politik yang dilakukan Syafi’i Ma’arif sangat baik untuk dijadikan model oleh para penelitian selanjutnya. Bentuk penelitiannya bercorak deskriptif analitis. Pendekatan dan analisis yang digunakannya bersifat normatif historis, sedangkan data-dat yang digunakannya bersumber pada kajian kepustakaan. Berbagai aspek yang lainnya yang lazim ada dalam penelitian, yaitu latar belakang pemikiran, tujuan, kerangka teori serta manfaat dari penelitian ini juga amat jelas.[16]
2.      Model Harry J. Benda
Penelitian di bidang politik dengan menggunakan pendekatan historis normatif dilakukan pula oleh Harry J. Benda, sebagaimana terlihat dalam bukunya berjudul Bulan Sabit dan Matahari Terbit Islam di Indonesia pada Masa Pendudukan Jepang.
Dilihat dari segi cakupannya, secara garis besar penelitian ini membawa perkembangan islam di pulau Jawa saja. Batasan ruang lingkup yang patut disesalkan ini sebagian besar ditentukan oleh sumber-sumber bahan yang bisa diperoleh. Terutama bagi masa Jepang, catatan-catatan tertulis dari pulau-pulau lain, dengan beberapa pengecualian kecil, tidak dapat diperoleh penelitian. Sedangkan efek-efek dari masa pendudukan Jepang terhadap islam Indonesia di Aceh, salah satu daerah islam di Sumatera yang kokoh keislamannya, telah menjadi pembahasan yang sangat bagus dari monograf Belanda, nasib masyarakat islam di daerah-daerah lain di Nusantara, terutama di daerah pantai barat sumatera yang penting itu, masih harus dipelajari secara terperinci.
Selanjutnya dikatakan dalam buku tersebut, karena aspek politik islam Indonesia merupakan pokok utama dalam buku tersebut, generalisasi tidak dapat dihindarkan. Pembahasan seperti ini terpaksa tidak memperdulikan adanya perbedaan regional yang meliputi islam bahkan dalam konteks terbatas di pulau Jawa, dimana cabang-cabang politiknya, teristimewa di Karesidenan Banten di Jawa Barat, dinilai harus mendapatkan perhatian sendiri. Diantara kesimpulan yang dihasilkan dari penelitian tersebut adalah meskipun islam di daerah lain tak dapat disangkal telah memainkan peranan utama di dalam perkembangan politik Indonesia, di Jawa menurut Benda telah mendapatkan perwujudan organisatoris paling penting. Disanalah juga, kelompok-kelompok islam paling langsung terlibat dalam membentuk politik Indonesia pada umumnya.
Dari uraian tersebut di atas, terlihat bahwa model penelitian yang dilakukan Harry J. Benda mengambil bentuk penelitian kepustakaan dengan corak penelitian deskriptif, dengan menggunakan pendekatan analisis sosio historis, sebagaimana penelitian  yang dilakukan Syafi’i Ma’arif tersebut di atas.[17]  
4.      MODEL PENELITIAN ANTROPOLOGI DAN SOSIOLOGI DALAM ISLAM
a.      Pengertian Antropologi Dan Sosiologi
1.      Antropologi
Secara etimologis antropologi berasal dari kata Yunani anthropos yang berarti manusia  atau  orang, dan logos yang berarti ilmu. Jadi antropologi adalah ilmu yang mempelajari manusia sebagai makhluk biologis sekaligus makhluk sosial.
2.      Sosiologi
Secara etimologis kata sosiologi berasal dari bahasa latin : socius dan  logos. Socius artinya masyarakat dan logos  artinya ilmu. Jadi, sosiologi adalah ilmu tentang masyarakat.[18]
Sosiologi mempelajari tingkah laku manusia sebagai anggota masyarakat, tidak sebagai individu yang terlepas dari kehidupan masyarakat. Sosiologi adalah interaksi manusia, yaitu pengaruh timbal balik diantara dua orang atau lebih dalam perasaaan, sikap, dan tindakan. Sosiologi tidak begitu menitik beratkan pada pa yang terjadi dalam diri manusia, melainkn pada apa yang berlangsung di antara manusia.[19]
Menurut Prof. Dr.B. Bouman menyatakan bahwa sosiologi adalah suatu ilmu yang mengkaji masalah yang berkaitan dengan gejal-gejala masyarakat. Dalam kehidupan keagamaan, pada hakekatnya gejala-gejala masyarakat keagamaan juga setara dengan masyarakat dalam arti nilai-nilai sosialistis. Nilai-nilai sosiologi akan melahirkan suatu hukum normatif, sebagaimana nilai agama juga menghasilkan nilai normatif, seperti wajib, haram, sunah, makruh, mubah, dan sebagainya. Kondisi semacam ini berarti antara sosiologi dan keagamaan mempunyai equvalensi yang sasarannya mengarah kepada nilai moral dan humanisme.[20]
b.      Makna Penelitian Antropologi Dan Sosiologi
Dewasa ini telah muncul suatu kajian agama yang menggunakan antropologi dan sosiologi sebagai basis pendekatannya. Berbagai pendekatan dalam memahami agama yang selama ini digunakan di pandang harus dilengkapi dengan pendekatan antropologi dan sosiologi tersebut. Berbagai pendekatan dalam memahami agama yang ada selama ini anatara lain pendekatan teologis, normatif, filosofis, dan historis.[21]
Para ahli ilmu-ilmu sosial, khususnya sosiologi dalam antropologi, telah mencoba untuk mengkaji agama sesuai dengan pendekatannya masing-masing. Diantara usaha yang telah dilakukan oleh para ahli antropologi untuk dapat memahami hakikat agama bagi kehidupan manusia sejumlah tulisan telah diterbitkan, antara lain Geertz (1966), Lessa dan Vogt (1972) dan Roberston (1972).[22]
Mengakaji fenomena keagamaan berarti mempelajari perilaku manusia dalam kehidupan beragamanya. Fenomena keagamaan itu sendiri merupakan perwujudan dari sikap dan perilaku manusia yang menyangkut hal-hal yang dipandang suci, keramat, yang berasal dari kegaiban. Ilmu pengetahuan sosial dengan cara, metode, teknik dan peralatannya masing-masing dapat mengamati dengan cermat perilaku manusia itu sehingga menemukan segala unsur yang menjadi komponen terjadinya perilaku tersebut. Sosiologi menyoroti dari sudut posisi manusia yang membawanya kewajiban perilaku itu, dan antropologi memperhatikan terbentuknya pola-pola perilaku itu dalam tatanan nilai yang dianut dalam kehidupan manusia.[23]
Melalui pendekatan antropologi agama yang berada pada dataran empirik akan dapat dilihat serat-seratnya dan latar belakang mengapa ajaran agama tersebut muncul dan dirumuskan. Antropologi berupaya melihat hubungan antara agama dan ekonomi melahirkan beberapa teori yang cukup menggugah minat para peneliti agama. Dalam berbagai penelitian antropologi agama dapat ditemukan adanya hubungan yang positif antara kepercayaan agama dengan kondisi ekonomi dan politik. Dengan menggunakan pendekatan perspektif antropologi tersebut di atas dapat di ketahui bahwa doktrin-doktrin dan fenomena-fenomena keagamaan ternyata tidak berdiri sendiri dan tidak pernah terlepas dari jaringan institusi atau kelemabagaan sosial kemasyarakatan yang mendukung  keberadaannya. Inilah makna penelitian antropologi dalam memahami gejal-gejala keagamaan.[24]
Selanjutnya kita melihat makna penelitian sosiologi dalam memahami agama. Dalam tinjauan sosiologi masyarakat dilihat sebagai suatu kesatuan yang didasarkan pada ikatan-ikatan yang sudah teratur dan boleh dikatakan stabil. Apabila masyarakat diharapkan stabil, dan tingkah laku sosial masyarakat bisa tertib dan baik, maka tingkah laku yang baik harus ditata dan dipolakan sesuai dengan prinsip-prinsip tertentu yang relatif diterima dan disepakati bersama. Prinsip-prinsip ini berkaitan dengan tujuan-tujuan atau merupakan sasaran utama tingkah laku manusia. Tujuan-tujuan semacam itu pada umumnya disebut dengan sebagai nilai-nilai.[25]
Dalam pandangan kaum sosiolog, agama lebih lanjut dibuktikan memiliki fungsi yang amat penting. Dalam hubungan ini, paling kurang ada enam fungsi agama bagi kehidupan masyarakat.    
Pertama,agama dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan tertentu dari manusia yang tidak dapat dipenuhi oleh lainnya.
Kedua agama dapat berperan memaksa orang untuk menepati janji-janjinya.
Ketiga bahwa agama dapat membantu mendorong terciptanya persetujuan mengenai sifat dan isi kewajiban-kewajiban sosial dengan memberikan nilai-nilai yang berfungsi menyalurkan sikap-sikap para anggota masyarakat dan menetapkan kewajiban-kewajiban sosial mereka.
Keempat agama berperan membantu merumuskan niali-nilai luhur yang dijunjung tinggi oleh manusia dan diperlukan untuk menyatukan pandangannya.
Kelima agama pada umumnya menerangkan fakta-fakta bahwa nilai-nilai yang ada hampir semua masyarakat buikan sekedar kumpulan nilai yang bercampur aduk tetapi membentuk tingkatan.
Keenam agama juga telah tampil sebagai yang memberikan standar tingkah laku yaitu berupa keharusan-keharusan yang ideal yang membentuk nilai-nilai sosial ya selanjutnya disebut norma-norma sosial.
Dengan bantuan ilmu sosial, tampak peran agama terlihat lebih fungsional. Hal ini terjadi karena di dalam ilmu sosial dijumpai prinsip-prinsip dan pola-pola hidup yang seharusnya dimainkan oleh manusia, dan agama sebagaimana diketahui hadir untuk memberikan makna bagi kehidupan manusia. Disinilah letak peranan ilmu sosial dalam menjelaskan fungsi yang dapat dimainkan agama. Penjelasan tersebut dilakukan melalui penelitian yang intensif terhadap agama dengan menggunakan kerangka ilmu sosial sebagai basis analisisnya.[26]       
c.       Model Penelitian Antropologi Agama             
Kajian keislaman dengan penelitian antropologi dapat dibaca pada tulisan seorang sarjana keturunan Yahudi kelahiran Paris, Maxime Radinson, Islam and Capitalism, menganggap bahwa ekonomi islam lebih dekat kepada sistem kapitalisme, atau sekurang-kurangnya tidak mengaharamkan prinsip-prinsip dasar kapitalisme. Juga dapat dilihat pula kajian dengan penelitian antropologi, yakni hubungan agama dengan mekanisme pengorganisasian (social organization). Untuk kasus di Indonesia, peneliti Clifford Geertz dalam karyanya, The Religion of Java, memberikan elaborasi bahwa ada klasifikasi sosial dalam masyarakat Muslim di Jawa, antara santri, priyayi, dan abangan. Sungguhpun hasil penelitian antropologi di Jawa Timur ini mendapat sanggahan dari berbagai ilmuwan sosial yang lain, kontruksi stratifikasi sosial yang ditemukannya cukup membuat orang untuk berpikir ulang tentang keabsahannya.
Penelitian Geertz ini mencontohkan suatu penelitian dengan pendekatan antropologi tanpa membawa teori dari luar, melainkan mencari dan menemukan teori dilapangan atau dilokasi penelitian. Model penelitian ini disebut grounded reseacrh. Ia ingin menyuguhkan hasil penelitiannya tentang masyarakat islam di Jawa yang memiliki ragam budaya, setidaknya masyarakat Jawa telah melakukan asimilasi dengan berbagai budaya yang mempengaruhinya tanpa melakukan justifikasi, namun justru ia menggali berdasarkan budaya yang berkembang. Dengan kata lain, Geertz ingin menyatakan bagaimana islam dipahami oleh masyarakat Jawa. Jika memerhatikan pola ini tampaknya Geertz dalam penelitiannya menggunakan pendekatan fenomenologi.[27]
Dari segi waktu yang digunakan untuk melakukan penelitian tersebut selama tiga tahap.
Tahap pertama antara September 19510-1952, persiapan yang intensif dalam bahasa Indonesia (yakni Melayu) dilakukan di Universitas Harvard, mula-mula di bawah professor Isadora Dyen dan kemudian dibawah Tuan Rufus Hendon, yang kemudian hari menjadi direktur proyek, dengan bantuan orang-orang Indonesia. Waktu antara bulna Juli sampai Oktober 1952 dipergunakan di negeri Belanda, mewawancarai sarjana-sarjana Tropical Institut di Amsterdam.
Tahap kedua dari bulan Oktober 1952 sampai Mei 1953 dipergunakan terutama di Yogyakarta, tempat ia mempelajari bahasa Jawa.
Tahap ketiga  antara Mei 1953 sampai September 1954 merupakan masa penelitian lapangan yang sesungguhnya, dan dilakukan di Mojokuto.
Semua kegiatan, termasuk wawancara dengan para informan, ia lakukan dengan menggunakan bahasa Jawa.
Pendekatan analisis yang dilakukan adalah dengan menggunakan kerangka teori yang terdapat dalam ilmu antropologi. Dengan pendekatan ini, fenomena keagamaan yang terjadi di daerah Jawa dapat dijelaskan dengan baik. [28]
d.      Model Penelitian Sosiologi Agama
Sebagaimana telah dikemukakan di atas, penelitian sosiologi agama pada dasarnya adalah penelitian tentang agama yang mempergunakan pendekatan ilmu sosial (sosiologi). Dalam kaitan ini, berbagai persoalan yang terdapat dalam ilmu sosial dilihat secara seksama dalam hubungannya dengan agama.
Diantara contoh mengenai penelitian sosiologi agama dilakukan oleh Robert N. Bellah dalam bukunya berjudul Religion Evolution : American Sosiological Review (1964). Menurut hasil penelitiannya, teori-teori dan penelitian tentang agama telah dibuat orang sejak ratusan tahun yang lalu, sejak zaman Herodotos, tetapi penelitian terhadap agama yang dilakukan secara ilmiah dan sistematis baru dimulai sejak pertengahan abad kewajiban-19.
Hasil penelitian Bellah terhadap agama primitif menyimpulkan bahwa agama-agama primitif secara keseluruhan diarahkan kepada suatu kosmos tunggal. Mereka sama sekali tidak mengetahui suatu dunia yang sama sekali berbeda dalam hubungannya dengan dunia nyata yang sama sekali tidak bernilai. Agama-agama ini menaruh perhatian terhadap pemeliharaan keharmonisan diri manusia, sosial dan kosmis serta berkepentingan atas pencapaian tujuan-tujuan tertentu.
Berdasarkan temuannya itu, Bellah sampai pada kesimpulan bahwa agama sebagai perangkat bentuk dan perbuatan simbolik yang menghubungkan  manusia dengan kondisi-kondisi pokok eksistensinya.[29]
BAB III
PENUTUP

A.    KESIMPULAN
Dengan berbagai penelitian yang telah dilakukan oleh beberapa ahli, sehingga kita mengetahui bagaimana hubungan islam terhadap ilmu-ilmu lainnya, seperti politik, sosiologi, antropologi dan lain-lain sehingga kita bisa memahai islam dengan mudah. Penelitian-penelitian tersebut mengungkapkan bahwa islam bukan hanya sebagai agama yang menjai keyakinan suatu masyarakat akan tetapi islam sangatlah berhubungan dengan hal-hal lain yang belum kita sadari, dengan adanya penelitian-penelitian tersebut kita dapat mengetahui keterkaitan-keterkaitan suatu ilmu dengan agama.













DAFTAR PUSTAKA

Abdul Rozak, Metodologi Studi Islam, Bandung : Pustaka Setia, 2008
Abuddin Nata, Metodologi Studi Islam, Jakarta : Raja Wali Pers, 2009
Ahmad Tantowi, Pendidikan Islam di Era Transformasi Global, Semarang : Pustaka Rizki Putra, 2008

Elizabeth. K. Nottingham, Agama dan Masyarakat suatu pengantar sosiologi agama, Jakarta : RajaGrafindo Persada, 2002

J.Dwi Narwoko, Bagong Suyanto, Sosiologi Teks Pengantar dan Terapan,  Jakarta : Kencana, 2006

Muhaimin, et al., Kawasan dan Wawasan Studi Islam , Jakarta : Kencana, 2007

M. Quraish Shihab, Wawasan Al-Quran, Bandung : Mizan Pustaka, 2003
Ng.Philipus, Nurul Aini, sosiologi dan politik, Jakarta : RajaGrafindo Persada, 2006
Rohadi Abdul fatah, Sosiologi Agama, Jakarta : Kencana, 2004
Taufi Abdullah dan M. Rusli Karim, Metodologi Penelitian Agama, Suatu Pengantar, Yogyakarta : Tiara Wacana Yogya, 2004
U. Maman Kh. et.al, Metodologi Penelitian Agama, Jakarta : RajaGrafindo Persada, 2006





[1] Ahmad Tantowi, Pendidikan Islam di Era Transformasi Global, (Semarang : Pustaka Rizki Putra, 2008), hal : 7-8
[2] Abuddin Nata, Metodologi Studi Islam,(Jakarta : Raja Wali Pers, 2009),  hal : 334, 337-339
[3] Abuddin Nata, Metodologi Studi Islam, … , hal : 341-343

[4] Abuddin Nata, Metodologi Studi Islam, … , hal : 343-359
[5] Muhaimin, et al., Kawasan dan Wawasan Studi Islam , (Jakarta : Kencana, 2007), hal : 211-212

[6] Abuddin Nata, Metodologi Studi Islam,… , hal : 363
[7] Abuddin Nata, Metodologi Studi Islam,… , hal : 363-364

[8] Abuddin Nata, Metodologi Studi Islam, … , hal : 365-372
[9] Ng.Philipus, Nurul Aini, sosiologi dan politik,(Jakarta : RajaGrafindo Persada, 2006), hal : 89-90
[10] M. Quraish Shihab, Wawasan Al-Quran, (Bandung : Mizan Pustaka, 2003), hal : 416
[11] Abuddin Nata, Metodologi Studi Islam, … , hal : 316
[12] M. Quraish Shihab, Wawasan Al-Quran,…, hal : 416-417
[13] Abuddin Nata, Metodologi Studi Islam, … , hal : 317
[14] M. Quraish Shihab, Wawasan Al-Quran,…, hal : 421-424

[15] Abuddin Nata, Metodologi Studi Islam, … , hal : 318-320

[16]Abuddin Nata, Metodologi Studi Islam, … ,  hal : 325-330
[17]Abuddin Nata, Metodologi Studi Islam, … , hal : 330-331
[18] Ng.Philipus, Nurul Aini, sosiologi dan politik,… , hal : 19
[19] J.Dwi Narwoko, Bagong Suyanto, Sosiologi Teks Pengantar dan Terapan, (Jakarta : Kencana, 2006), hal : 2-3
[20] Rohadi Abdul fatah, Sosiologi Agama, (Jakarta : Kencana, 2004), hal : 7-8
[21] Abuddin Nata, Metodologi Studi Islam, … , hal : 391
[22] U. Maman Kh. et.al, Metodologi Penelitian Agama, (Jakarta : RajaGrafindo Persada, 2006),
hal : 93
[23] Taufi Abdullah dan M. Rusli Karim, Metodologi Penelitian Agama, Suatu Pengantar, (Yogyakarta : Tiara Wacana Yogya, 2004), hal : 1
[24] Abuddin Nata, Metodologi Studi Islam, … , hal : 391-392
[25] Abuddin Nata, Metodologi Studi Islam, … , hal : 392-395

[26] Elizabeth. K. Nottingham, Agama dan Masyarakat suatu pengantar sosiologi agama, (Jakarta : RajaGrafindo Persada, 2002), hal : 25-34
[27] Abul Rozak, Metodologi Studi IslamI, (Bandung : Pustaka Setia, 2008), hal : 139-40
[28] Abuddin Nata, Metodologi Studi Islam, … , hal : 399-401
[29] Abuddin Nata, Metodologi Studi Islam, … , hal: 401-403

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar